Gagal paham hanya sebuah gambaran untuk mengabaikan hal kecil yang terjadi agar bisa mengkaji lebih dalam unsur yang tak muncul dipermukaan public. Sehingga kita sebagai masyarakat tidak terjerumus didalam tindakan kubuk koalisi yang mencoba mengalihkan isu.
Marilah kita sebagai masyarakat bernalar dengan bijaksana agar bisa jernih dalam mengambil sebuah kesimpulan.
Pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid adalah polarisasi kubuk koalisi.
kejadian pembakaran bendera yg bertuliskan kalimat tauhid yg dilakukan oleh oknum banzer dkk.
Itu suatu Alasan yg mendasar tanpa nalar yg jernih, dengan alaibi bahwa Bendera yg dibakar miliknya HTI, pada hal bendera HTI punya simbolik sendiri sebagai identitas suatu organisasi.
Bendera yg dibakar sekarang hanya bertuliskan kalimat tuhan dan rasulnya lalu di jadikan alibi bhwa itu bendera HTI, pertanyaan kemudian kami sebagai masy. Awam,
Apakah kalian BANZER memiliki ideologi dan keyakinan yg berbeda dengan masy pada umumnya sehingga bendera yg bertuliskan kalimat tauhid dibakar? Entahlah
Oknum pembakar bendera tersebut bersandar pada logika yg salah agar bisa membakar bendera tersebut, agar tak transparansi kebencian mereka terhadap agama dan keyakinan tertentu sehingga mereka menciptakan suasana yg gaduh terhadap public.
Mari bersama-sama mengolahragakan akal kita untuk sejenak..hihihi
Terlepas dari persoalan banzer dkk melakukan tindakan tersebut, kita harus mengkaji lebih dalam akar persoalannya.
Saya sebagai masy awam saya tidak melihat itu sebagai persoalan yg mendasar tapi ada hal lain yg menyebabkan mereka bertindak seperti itu. Kemungkinan itu hanya strategi penutupan AIB agar public fokus pda persoalan pembakaran bendera tauhid.
Jangan-jangan ini pengalihan isu yg kemudian dimainkan oleh kubuk koalisi agar hal yg mendasar seperti kasus-kasus korupsi yg dilakukan oleh anggota kubuk sebelah agar tidak mencuat dipublic sehingga image mereka dimata public semakin baik. Strategi sekarang sebagai landasan dasar untuk menyambut kemenangan selanjutnya tapi maaf saja karena masy. Pada umumnya sudah tidak dapat dimanipulasi oleh strategi pengalihan isu krn hal seperti ini sdh sering dilihat oleh public bahwa itu suatu bentuk hegemoni yg kemudian dilakukan oleh kubuk koalisi agar terlihat baik dimata public. Sekarang rakyat paham, ! Karena rakyat sudah paham maka rakyat akan bersi keras agar tidak terus terjebak dengan pola yang sama.
Isu SARA terus dibenturkan oleh kubuk koalisi agar hal-hal yang mendasar tidak diketahui oleh public, pola kubuk koalisi sangat tepat demi menyelamatkan kekuasaan, dan image untuk menyembunyikan ideologi tertentu di mata public.
Masalah gempa,tsunami, yg sangat urgensi krn masalah kemanusiaan kurang diperhatikan 100%, sehingga kubuk koalisi membenturkan lagi dengan masalah kasus ratna sarumpaet dikeroyok oleh oknum, prabowo berbohong, baru-baru ini lagi kasus anggota kubuk sebelah yg kena OTT, ada juga salah satu gubernur dari partai banteng terjangkit kasus korupsi lalu kubuk koalisi mamainkan drama dengan judulnya BANZER DKK melakukan tindakan pembakaran bendera yg bertuliskan kalimat tauhid. Agar public lebih fokus ke kasus persoalan agama karena kubuk koalisi sudah sangat faham dengan mentalitas masy yg sangat sensitifitas dengan persoalan yg berbau keyakinan seperti pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid. Sehingga masayarakat tidak bisa melihat dan menganalisi dengan baik persoalan yg sesungguhnya yg terjadi di dalam bangsa ini, dan carut marutnya bangsa ini.
Semua drama hanya sebuah polarisasi dari pergerakan dari ideologi tertentu yg berkoalisi dengan kubuk pemerintah.
Sy teringat dgn cerita Nasruddin Hoja "pesuruh Rakyat"
Suatu ketika nasruddin jalan-jalan ke kota, tampaknya ada kesibukan luar biasa di istana, karena rasa ingin tahu, nasruddin mencoba mendekati pintu istana, pengawal sangat bersikap keras, dan tidak ramah.
Menjauhlah engkau, terik pengawal tersebut, lalu nasruddin bertanya kenapa?
Raja sedang menerima tamu-tamu agung dari seluruh negeri, saat ini sedang berlangsung pembicaraan yang sangat penting. Pergilah ! Tapi mengapa rakyat harus menjauh?
Pembicaraan ini menyangkut nasib rakyat, sy menjaga ini agar tak ada perusuh yang masuk, dan menganggu. Sekarang, pergilah!
Iya aku pergi. Tapi pikirkan : bagaimana kalau perusuhnya sudah ada di dalam sana? Kata nasruddin sambil beranjak meninggalkan tempat tersebut.
Seperti cerita diatas itulah gambaran bangsa ini, masalah diluar selalu di gemparkan dipublic seakan-akan masalah tersebut sangat besar. Pada hal masalah yang sangat besar ada di dalam istana, musuh terbesar ada didalam sehingga segala permasalahan di dalam negeri tidak terselasaikan dengan tuntas setiap kasus yang ada karena musuhnya ada didalam istana. Sehingga segala pola dan strategi yang kemudian mau dijalankan selalu dibungkam dengan pasal 50 ayat 100.
Untuk menyelesaikan problem negeri ini maka tirai dan orang yang ada dalam istana harus di sterilkan maka segala problematika yang selama ini membinggungkan rakyat agar bisa di atasi dengan baik, sehingga kebenaran bisa muncul di atas permukaan.








